Di tengah kesibukan mengasuh santri di Pondok Pesantren Darul Furqon Desa Danawarih Kecamatan Balapulang Kabupaten Tegal dan menjalankan amanah sebagai Ketua MWC-NU Balapulang, sosok Kyai H. Taufiq memberikan sebuah pelajaran sederhana tentang arti pengabdian.
Bagi sebagian orang, menjadi seorang kyai mungkin identik dengan duduk di depan majelis, menyampaikan nasihat, memimpin doa, atau memberikan pengajian. Namun bagi Kyai H. Taufiq, pengabdian kepada umat tidak selalu harus dilakukan dari mimbar.
Ada kalanya, ketika keadaan mendesak dan tidak ada orang lain yang bisa mengemudikan kendaraan, beliau tak segan untuk turun tangan menjadi sopir Ambulans NU Balapulang.
Dengan sederhana beliau mengatakan:
“Kalau memang kepepet, saya ikut nyupiri. Ini bagian dari pelayanan terhadap umat.”
Kalimat sederhana itu menyimpan makna yang begitu dalam.
Sebab sejatinya, menjadi pemimpin bukan tentang seberapa tinggi posisi yang diduduki, tetapi seberapa jauh seseorang bersedia turun tangan ketika umat membutuhkan.
Di balik kesederhanaan itu, ada keteladanan: bahwa ilmu harus melahirkan pengabdian, jabatan harus melahirkan pelayanan, dan menjadi seorang kyai bukan berarti harus menjaga jarak dari persoalan umat.
Ketika ambulans bergerak membawa orang yang membutuhkan pertolongan, mungkin tidak banyak yang tahu siapa yang berada di balik kemudi. Namun di situlah nilai keikhlasan diuji. Tidak ada panggung, tidak ada tepuk tangan, dan tidak ada sorotan.
Yang ada hanyalah satu niat: membantu sesama.

Kyai H. Taufiq mengajarkan bahwa khidmah kepada umat tidak mengenal gengsi. Kadang seorang kyai harus menjadi imam, kadang menjadi guru, kadang menjadi pengayom, bahkan dalam keadaan tertentu harus menjadi sopir bagi umat yang sedang membutuhkan pertolongan.
Sebuah keteladanan kecil, tetapi memiliki pesan yang besar:
Pemimpin yang dekat dengan umat adalah pemimpin yang tidak ragu turun tangan.
Dan mungkin, justru di balik kemudi Ambulans NU itulah kita bisa melihat wajah pengabdian yang sesungguhnya—sederhana, ikhlas, dan hadir ketika umat membutuhkan.
Kyai H. Taufiq, Pengasuh Pondok Pesantren Darul Furqon sekaligus Ketua MWC-NU Balapulang.
Khidmah bukan tentang siapa yang dilayani, tetapi tentang kesediaan untuk melayani.
Kontributor : Alba