Para pembaharu dan pemikir Islam mengklaim Abad ke 7 H sebagai awal kemunduran umat Islam dalam ilmu pengetahuan. Sebagian lain menyanggah dengan menyebut beberapa nama ulama diantaranya Syeikh Abdul Wahab Al-Sya’rani. Pencapaian ulama seperti Al-Sya’rani yang prestisius membantah klaim kemunduran umat Islam.
Agaknya memang paramater kemajuan dan kemunduran diantara intelektual kita berbeda. Dalam teknologi, pengetahuan eksak dan eksperimental barangkali Betul, namun dalam bidang lain yang tak kalah penting sangat menakjubkan, yaitu sosial humaniora.
Ulama yang dilahirkan 898 H ini menguasai multidisiplin ilmu, hadis bisa dilihat dari Kasyf al-Gammah, kemudian fikih bisa dilihat dari Mizan kubra, dan beliau (para ulama) menulis berbagai buku ilmiah yang menjembatani antara ulama fikih dan tasawuf.
Ia murid langsung dari Jalaludin Suyuthi, Syeikh Islam Zakaria al-Anshari, al-Ramli, al-Laqani dll. Ia membaca ribuan buku interdisipliner. Seperti Al-Ghazali, Al-Sya’rani untuk sampai pada ilmu hakikat yang tidak memberikan ruang bagi kemungkinan salah dan benar berkumpul, ia berguru pada Ali Al-Khawas.
Ali Al-Khawas tidak bisa baca tulis alias umiy, berbeda dengan Suyuthi atau Zakaria al-Anshari yang menyandang gelar profesor. Namun Profesor Abdul Wahab Sya’rani memuji guru spiritualnya yang tidak bisa baca tulis ini,

رجل غلب عليه الخفاء فلا يكاد يعرفه بالولاية والعلم الا العلماء العاملون لانه رجل كامل عندنا بلا شك والكامل اذا بلغ مقام الكمال فى العرفان صار غريبا فى الاكوان
Ali Al-Khawas tidak dikenal, hampir tidak ada orang yang mengenalinya sebagai wali dan mempunyai ilmu kecuali para ulama yang mengamalkan ilmunya, karena beliau bagi kami adalah manusia sempurna (Kamil) tanpa keraguan. Orang yang sempurna ketika sampai pada kesempurnaan dalam makrifat ia menjadi orang yang tidak dikenal di bumi ini.
Melalui “orang” yang buta huruf ini seorang profesor “sampai” (wushul) kepada Allah SWT. Dan keduanya adalah ulama.
Orang yang punya banyak data di kepala yang disimbolkan dengan gelar akademik yang berderet, atau jubah menjuntai ke tanah penutup kepala sebesar ban mobil belum tentu ulama.
Sebaliknya orang yang kelihatannya biasa, jangankan gelar, baca tulis saja tidak bisa, boleh jadi dia ulama dan kekasih Allah SWT.
Al-Quran memberi kita ciri-ciri Ulama : mereka adalah orang-orang yang selalu takut kepada Allah, tidak memiliki rasa susah dan sedih, mementingkan dan menyayangi umat.
Tidak pernah ada dalam sejarahnya, ulama menjadikan umat sebagai alat apalagi membenturkan mereka, menumpahkan darahnya untuk menutupi kedunguan pemimpinnya.